Investor kawakan ini mengucurkan dana hingga Rp2,7 miliar untuk memborong kembali saham emiten investasi tersebut.
Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Edwin Soeryadjaya tercatat memborong sekitar 1,5 juta lembar saham SRTG sepanjang periode 8 hingga 9 September 2026.
Aksi korporasi pembelian saham tersebut dilakukan pada harga rata-rata Rp1.829 per lembar saham.
Melalui eksekusi transaksi tersebut, porsi kepemilikan saham secara langsung oleh Edwin Soeryadjaya di SRTG merangkak naik dari posisi sebelumnya sekitar 35,91 persen menjadi 35,92 persen.
Manajemen Saratoga Investama Sedaya dalam laporan keterbukaan informasi menyebutkan bahwa penambahan porsi saham oleh jajaran komisaris ini merupakan transaksi investasi langsung.
“Semua informasi dalam Laporan Bulanan Registrasi Pemegang Efek telah dimuat secara lengkap dan benar, tidak mengandung informasi atau fakta material yang tidak benar,” ujar Corporate Secretary Saratoga Investama Sedaya, Sandi Rahaju, dalam laporan resmi perseroan.
Perkuat Posisi Pengendali Utama
Aksi serap saham yang dilakukan oleh pendiri Saratoga ini makin mengukuhkan posisinya sebagai pemegang saham pengendali utama sekaligus pemilik manfaat (ultimate beneficial owner) di tubuh emiten berkode saham SRTG tersebut.
Sebelum transaksi pembelian terbaru di bulan September ini digelar, laporan registrasi pemegang efek perseroan per akhir Agustus 2026 mencatat Edwin Soeryadjaya menguasai sebanyak 4.867.505.690lembar saham atau setara dengan 35,88 persen.
Struktur kepemilikan saham SRTG di atas 5 persen saat ini masih didominasi oleh tiga pihak utama.
Selain Edwin Soeryadjaya yang memegang porsi terbesar, PT Unitras Pertama menggenggam sebanyak 3,36 miliar lembar saham atau setara 24,84 persen.
Sementara itu, Sandiaga Salahuddin Uno menguasai sebanyak 2,91 miliar lembar saham atau porsinya mencapai 21,51 persen.
Di sisi lain, porsi kepemilikan saham publiknon-warkat di bawah 5 persen tercatat sebesar 17,58 persen atau sebanyak 2,38 miliar lembar saham.
Adapun perseroan juga mencatatkan kepemilikan saham treasury sebesar 3,34 juta lembar saham atau setara 0,025 persen.
Kinerja Keuangan Saratogahingga Semester I 2026
Aksi akumulasi saham oleh internal pengendali ini berlangsung di tengah dinamika kinerja keuangan perseroan pada paruh pertama tahun ini.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, SRTG mencatatkan rugi bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp3,87 triliun pada semester I-2026.
Kondisi tersebut berbalik dari posisi laba bersih senilai Rp102,02 miliar yang dibukukan pada periode sama tahun sebelumnya.
Perubahan kinerja keuangan perseroan terutama dipengaruhi oleh rugi neto atas investasi pada saham dan efek lainnya yang membengkak menjadi Rp4,83 triliun per Juni 2026, dibanding rugi neto investasi senilai Rp1,82 triliun pada semester I-2025.
Dampaknya, rugi per saham SRTG tercatat menjadi Rp286 per lembar.
Meski demikian, pendapatan arus kas inti perseroan tetap menunjukkan pertumbuhan positif.
Laporan keuangan menunjukkan pendapatan dividen dan bunga SRTG berhasil tumbuh 31,51 persen secara tahunanmenjadi Rp1,69 triliun per Juni 2026.
Mellisa Holidi dari Investor Relations Saratoga sempat menjelaskan bahwa fluktuasi nilai portofolio perseroan sebagai perusahaan investasi murni sangat dinamis dan selalu mengikuti pergerakan harga saham di pasar modal.
“Melalui pendekatan ini, kami memastikan portofolio tetap tangguh di tengah berbagai dinamika pasar,” jelas Mellisa.
Langkah pembalikan kinerja semester I-2026 ini juga terjadi setelah kinerja impresif pada tahun buku sebelumnya.
Sepanjang tahun penuh 2025, SRTG sempat membukukan lonjakan laba bersih hingga mencapai Rp7,32 triliun, melesat dibanding capaian 2024 senilai Rp3,29 triliun.
Atas capaian positif tahun lalu tersebut, perseroan telah merealisasikan pembagian dividen tunai kepada pemegang saham sebesar Rp1,4 triliun atau setara Rp103,3 per saham pada Juni 2026.
Dari sisi likuiditas dan aset, laporan keuangan perseroan menunjukkan posisi arus kas serta permodalan Saratoga yang tetap terjaga kokoh sepanjang periode berjalan.
Total aset perseroan per Juni 2026 berada di kisaran Rp48,83 triliun, yang sebagian besar ditopang oleh nilai wajar investasi pada entitas asosiasi serta portofolio perusahaan terbuka dan tertutup.
Perseroan juga mencatatkan tingkat rasio pinjaman yang terkendali, sehingga memberikan ruang likuiditas yang fleksibel bagi manajemen untuk mengeksekusi peluang investasi strategis baru di sektor energi hijau, infrastruktur digital, serta layanan kesehatan.
Aksi perburuan saham oleh Komisaris Utama ini makin mempertegas optimisme manajemen terhadap keandalan fondasi aset serta prospek nilai tambah jangka panjang Saratoga.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.