Laba Tumbuh 396 Persen, Merck (MERK) Siapkan Langkah Bisnis Selepas Kontrak P&G

Usai bekerja sama dengan perusahaan asal Amerika Serikat tersebut, Merck berencana memperkuat bisnis obat resep sekaligus mengoptimalkan Pabrik Pasar Rebo di Jakarta Timur untuk memenuhi kebutuhan domestik dan membuka pasar ekspor Asia.

Strategi tersebut disampaikan Merck dalam Public Expose 2026.

Di tengah perubahan portofolio bisnis, perusahaan berkode saham MERK ini menyatakan akan menyetop produksi produk Consumer Health dan berakhirnya Manufacturing Supply Agreementdengan P&G.

Direktur PT Merck Tbk Arryo Aritrixso Wachjuwidajat mengatakan, pihaknya akan mempertahankan fokus pada produksi dan pemasaran obat resep dengan memanfaatkan kapasitas yang dimiliki di Pabrik Pasar Rebo.

“Merck berkomitmen memperkuat produksi dan pemasaran obat-obat resep sebagai bagian penting dari kontribusi kami bagi kesehatan masyarakat Indonesia, sekaligus mengoptimalkan kapabilitas Pabrik Pasar Rebo untuk mendukung kebutuhan pasar domestik dan memperluas jangkauan ke pasar Asia.

Dengan fokus pada kebutuhan pasien dan pengembangan portofolio, kami siap membangun fondasi pertumbuhan jangka panjang,” ujarnya dalam paparan publik tersebut, Kamis, 8 Oktober 2026.

Sementara ini, sekitar 60 persen penjualan Healthcare Merck dilaporkan berasal dari produk bioteknologi impor. Sedangkan komposisi 40 persennya berasal dari produk yang diproduksi sendiri.

Siapkan Pabrik di Pasar Rebo

Merck juga menyiapkan Pabrik Pasar Rebo untuk meningkatkan kontribusi ekspor Indonesia.

Dalam tiga tahun ke depan, fasilitas tersebut diproyeksikan secara bertahap akan memproduksi Glucophage XR, Glucophage IR, Glucovance, dan Concor untuk pasar Asia.

Ekspansi tersebut mencakup ekspor ke Filipina pada 2026, serta Hong Kong, Singapura, Brunei, Malaysia, dan Thailand pada periode 2027 hingga 2029.

Untuk pasar domestik, Merck masih mencatat capaian positif untuk produk kesehatan, yakni Euthyrox dan Thyrozol untuk tiroid, Concor untuk kardiovaskular, Glucophage dan Glucovance untuk diabetes, Mavenclad dan Rebif untuk multiple sclerosis, Pergoveris dan Gonal-f untuk fertility, Saizen untuk growth hormone, serta Erbitux untuk kanker kolorektal.

Dalam paparan perusahaan, Merck mencatat pertumbuhan 7,7 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pasar total sebesar 6,2 persen dan pasar ethical sebesar 6,5 persen.

Perseroan juga berada di posisi kedelapan dalam kelompok perusahaan farmasi asing atau multinational corporation

Di samping itu, Merck coba mengakselerasi bisnisnya lewat produk Bavencio dan Mavenclad serta meluncurkan TEPMETKOuntuk kanker paru-paru.

Merck juga mengevaluasi potensi tambahan produk dari akuisisi SpringWorks dengan mempertimbangkan business case untuk pasar Indonesia.

Laba Semester I 2026 Melonjak

Di tengah persiapan perubahan struktur bisnis tersebut, kinerja keuangan MERK pada Semester I 2026 menunjukkan lonjakan.

Laba bersih MERK disebut meningkat sekitar 396 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya atau hampir empat kali lipat.

Pada periode yang sama, volume produk P&G turun 0,7 persen karena Merck tidak lagi memasok produk liquid. Namun, harga pasokan dilaporkan meningkat 98 persen seiring penyesuaian harga berdasarkan MSA terbaru.

Dari sisi struktur keuangan, rasio utang terhadap ekuitas atau debt-to-equity ratio berada di sekitar 0,27 kali. Current ratio tercatat 5 kali, sedangkan return on assets sebesar 9,10 persen dan return on equity 11,59 persen.

Meski kinerja periode Semester I 2026 tumbuh, Merck tetap mencatat penurunan nilai aset Pabrik Pasar Rebo sebesar Rp87 miliar pada 30 September 2026.

Penurunan tersebut berkaitan dengan perubahan material terhadap prospek volume produksi, utilisasi kapasitas, dan arus kas masa depan menjelang berakhirnya MSA dengan P&G.

Kondisi ini berdampak pada nilai yang tercatat sebagai aset dan laba perusahaan pada 2026.

Sebelumnya, Merck telah mengungkapkan potensi risiko penyesuaian nilai aset tersebut dalam laporan tahunan 2024 dan 2025.

Direktur PT Merck Tbk Bambang Nurcahyo menyatakan, pencatatan penurunan nilai dilakukan setelah perseroan mengevaluasi aset Pabrik Pasar Rebo bersama penilai independen.

“Transparansi adalah prinsip yang kami pegang.

Karena itu, kami mengevaluasi nilai aset Pabrik Pasar Rebo secara cermat bersama penilai independen dan mencatat penurunan nilai tersebut sesuai dengan hasil evaluasi serta ketentuan akuntansi yang berlaku.

Langkah ini mencerminkan komitmen kami pada tata kelola yang baik dan memperkuat fondasi Perseroan untuk tumbuh ke depan,” jelasnya.

Sebagai informasi, evaluasi tersebut mengacu pada penilaian independen KJPP Suwendho Rinaldy dan Rekanyang menetapkan nilai pasar aset sebesar Rp93 miliar per 31 Agustus 2026.

Lewat pendekatan konservatif berdasarkan panduan Merck Group Accounting dan ketentuan PSAK, Merck mencatat beban penurunan nilai sebesar Rp87 miliar.

Setelah penyesuaian tersebut, nilai buku neto aset Pabrik Pasar Rebo tercatat menjadi Rp75 miliar.

Pencatatan tersebut dilakukan pada September 2026 agar tercantum dalam laporan keuangan perusahaan pada kuartal III 2026.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.