Harga Emas Anjlok 1,7 Persen, Sinyal Hawkish The Fed dan Dolar AS Jadi Biang KerokHarga Minyak Naik Hampir Empat Persen, Iran Tolak Menyerah di Tengah Ancaman Trump
Selisih antara keduanya terlihat sangat lebar. Namun angka tersebut perlu dibaca dengan hati-hati karena potensi energi tidak sama dengan kapasitas listrik yang bisa langsung dibangun dan dialirkan.
Potensi teknis harus berhadapan dengan persoalan keekonomian, lokasi, teknologi, perizinan, pembebasan lahan, pembiayaan, sampai jaringan transmisi.
Meski begitu, satu fakta tetap sulit diabaikan. Indonesia memiliki sumber energi yang sangat besar, sementara pekerjaan mengubah potensi tersebut menjadi listrik komersial masih panjang.
Pemerintah sendiri sudah memasukkan ekspansi pembangkit dalam RUPTL 2025-2034. Total tambahan pembangkit ditargetkan mencapai 69,5 GW, dengan EBT dan penyimpanan energi menjadi bagian utama dari ekspansi tersebut.
Jadi problem saat ini adalah seberapa cepat rencana tersebut bisa berubah menjadi listrik yang benar-benar tersedia ketika data center mulai meminta pasokan.
Listrik Hijau Tanpa Kabel Transmisi Ya Cuma Potensi
Persoalan berikutnya lebih rumit lagi. Sumber energi yang ditawarkan Bahlil kepada investor tidak semuanya berada di dekat pusat pertumbuhan data center.
Potensi PLTA Sungai Mamberamo berada di Papua. Sungai Kayan berada di Kalimantan.
Sementara pembangunan pusat data berkembang di berbagai lokasi yang membutuhkan listrik dalam jumlah besar. Karena itu, pembangkit dan transmisi tidak bisa dipisahkan.
Dalam RUPTL 2025-2034, pemerintah menargetkan pembangunan jaringan transmisi hampir 48.000 kilometer sirkuit serta gardu induk dengan kapasitas sekitar 108.000 MVA.
Dokumen FAQ RUPTL mencatat angka transmisi sekitar 48.000 kilometer sirkuit dan gardu induk 108.000 MVA tersebut sebagai bagian dari penguatan infrastruktur kelistrikan nasional.
Dalam perkembangan terbaru, ESDM menyebut pembangunan transmisi ditargetkan mencapai 47.758 kilometer dengan gardu induk berkapasitas 107.950 MVA. Pengembangan jaringan itu berjalan beriringan dengan tambahan pembangkit nasional 69,5 GW.
Artinya, pemerintah sebenarnya sudah menghitung bahwa membangun pembangkit saja tidak cukup.
Listrik harus bisa dipindahkan dari lokasi sumber energi menuju lokasi yang membutuhkan. Di sinilah tawaran Bahlil menjadi menarik untuk dibaca dengan angka-angka tadi.
Potensi PLTA Sungai Mamberamo disebut sekitar 23 GW, sementara Sungai Kayan sekitar 12 GW. Jika digabung, potensi tersebut mencapai sekitar 35 GW.
Angka itu memang besar. Bahkan jika hanya dibandingkan secara aritmetika dengan proyeksi kebutuhan listrik data center sebesar 5.226 MW pada 2034, potensi 35 GW tersebut setara sekitar 6,7 kali kebutuhan tersebut.
Tetapi angka itu tidak bisa diterjemahkan sebagai Indonesia sudah memiliki cadangan listrik 35 GW untuk data center. Sebab potensi pembangkit bukan pembangkit yang sudah beroperasi.
Masih diperlukan pembangunan fasilitas pembangkit, investasi, jaringan transmisi, gardu induk, sistem interkoneksi dan kepastian pasokan sebelum energi dari lokasi tersebut benar-benar dapat dikonsumsi industri.
Justru karena itulah pembangunan jaringan transmisi hampir 48.000 kilometer menjadi penting dalam RUPTL.
Pemerintah juga punya alasan ekonomi untuk mengejar industri ini. BKPM yang mengutip Mordor Intelligence menyebut nilai pasar data center Indonesia sekitar USD1,44 miliar pada 2025, setara sekitar Rp25,78 triliun.
Angka tersebut diperkirakan naik menjadi USD1,83 miliar pada 2026, sekitar Rp32,76 triliun, dan mencapai USD3,48 miliar pada 2031, sekitar Rp62,29 triliun. Proyeksinya menggunakan pertumbuhan tahunan majemuk sekitar 13,71 persen.
Pertumbuhan industri digital itu kemudian bertemu dengan kebutuhan listrik yang juga meningkat.
PLN bahkan menyebut sektor bisnis pada 2025 menjadi salah satu sumber pertumbuhan konsumsi listrik dan secara eksplisit memasukkan data center sebagai salah satu pendorongnya.
Data center bukan lagi calon konsumen listrik yang masih jauh di depan mata. Industri tersebut sudah ikut membentuk pertumbuhan permintaan listrik saat ini. Masalahnya tinggal bagaimana pasokan mengejar permintaan.
Sebab investor mungkin tertarik dengan potensi listrik 23 GW di Mamberamo dan 12 GW di Kayan. Tetapi pusat data tidak bisa beroperasi menggunakan potensi.
Server membutuhkan listrik yang sudah dibangkitkan, tersambung ke jaringan dan tersedia ketika tombol dinyalakan. Pekerjaan menuju titik itu masih panjang.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.