Penurunan ini terjadi setelah aliran ekspor minyak dari Timur Tengah mulai menunjukkan pemulihan.
Kendati demikian, penurunan harga minyak dunia belum menghapus tekanan di pasar energi karena harga Brent masih berada di atas USD100 per barel dan pasokan kawasan tersebut belum kembali ke tingkat sebelum konflik.
Berdasarkan data perdagangan, harga minyak Brent turun USD2,69 atau 2,6 persen menjadi USD102,59 per barel. Sementara minyak mentah West Texas IntermediateAmerika Serikat melemah USD3,22 atau 3,5 persen menjadi USD89,38 per barel.
Meskipun turun dalam perdagangan terakhir, Brent masih berada di jalur kenaikan sekitar 13 persen sepanjang September. WTI juga masih mencatat kenaikan sekitar 4 persen pada periode yang sama.
Reuters pada Selasa, 30 September 2026 melaporkan, tekanan terhadap harga minyak mulai berkurang setelah Arab Saudi kembali melakukan pemuatan minyak dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah.
Langkah tersebut berlangsung setelah jalur pipa East-West Saudi Arabia kembali beroperasi, sehingga meningkatkan prospek pengiriman minyak dari kawasan tersebut.
Data Kpler juga menunjukkan ekspor minyak mentah dari produsen utama Timur Tengah mencapai 16,328 juta barel per hari pada September 2026.
Angka tersebut menjadi level tertinggi sejak perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dimulai pada Februari.
Namun, angka tersebut masih sekitar 3,2 juta barel per hari di bawah level sebelum konflik sebesar 19,513 juta barel per hari.
Dengan demikian, pemulihan ekspor belum berarti pasokan minyak kawasan telah sepenuhnya kembali normal. Ekspor minyak mentah Timur Tengah saat ini masih berada di bawah 80 dari tingkat sebelum konflik.
Pasokan Mulai Pulih, tapi Masih Berisiko
Pemulihan arus minyak menjadi salah satu faktor yang menekan harga Brent pada perdagangan Selasa. Namun, ketidakpastian ketersediaan pasokan lantaran konflik antara AS-Iran masih menghantui.
Sementara jalur diplomasi antara kedua negara masih berlangsung melalui mediasi Qatar.
Pembicaraan tersebut diarahkan untuk mencari jalan keluar dari konflik dan memulihkan akses pelayaran melalui Selat Hormuz, tetapi belum menghasilkan penyelesaian yang memastikan normalisasi perdagangan energi.
Selat Hormuz menjadi bagian penting dalam rantai pasokan energi global. Gangguan terhadap jalur tersebut sebelumnya telah membatasi pergerakan kapal dan mengganggu pengiriman minyak serta gas dari kawasan Teluk.
Data Kpler juga menunjukkan arus ekspor melalui Selat Hormuz pada September mencapai sekitar 9,719 juta barel per hari.
Angka tersebut masih menunjukkan adanya aktivitas pengiriman, tetapi berada dalam kondisi yang berbeda dibandingkan sebelum konflik.
Pasar minyak karena itu belum sepenuhnya terbebas dari risiko pasokan. Selama gangguan logistik dan ketidakpastian geopolitik masih berlangsung, perubahan arus ekspor dapat kembali memengaruhi harga minyak.
Bukan Hanya Minyak Mentah
Tekanan pasar energi juga terlihat pada produk olahan, terutama diesel. Penurunan harga minyak mentah pada Selasa tidak secara otomatis diikuti penurunan harga seluruh produk energi.
Harga kontrak diesel di Eropa memang turun pada perdagangan Selasa, tetapi harga diesel di Amerika Serikat justru meningkat 2,6 persen.
Gedung Putih juga telah mendorong negara-negara Uni Eropa untuk mengeluarkan persediaan diesel dari cadangan darurat guna membantu menurunkan harga global.
Pemerintah AS juga mempertimbangkan pelonggaran aturan yang memungkinkan penjualan lebih luas red-dyed diesel.
Opsi tersebut muncul di tengah upaya menekan harga diesel domestik dan menjadi alternatif terhadap kemungkinan pembatasan ekspor diesel Amerika Serikat.
Persoalan diesel memiliki karakter berbeda dengan pasar minyak mentah. Gangguan pada kapasitas pengolahan minyak di Timur Tengah dan Rusia telah memperketat pasar produk olahan.
Kondisi tersebut membuat pasokan diesel menjadi perhatian meskipun harga minyak mentah mengalami penurunan.
Reuters sebelumnya melaporkan harga diesel ritel AS telah mencapai rekor sekitar USD6,50 per galon, sementara persediaan AS berada pada level terendah untuk periode tersebut dalam lebih dari empat dekade.
Hal tersebut menunjukkan bahwa penurunan harga Brent belum cukup untuk menyimpulkan tekanan energi telah berakhir. Pasar produk olahan memiliki persoalan pasokan dan kapasitas penyulingan yang berbeda dari pasar minyak mentah.
Sementara itu, Pengamat komoditas, pasar modal dan Founder Traderindo, Wahyu Laksono, mengatakan kenaikan harga serta pengetatan pasokan diesel global mulai memberikan dampak terhadap Indonesia, khususnya sektor industri.
Meski demikian, kondisi tersebut belum dapat dikategorikan sebagai krisis solar nasional.
Menurut Wahyu, tekanan di pasar diesel global saat ini terjadi akibat guncangan pasokan beruntun atau compounding supply shock.
Kondisi tersebut dipicu oleh gangguan dari sejumlah negara yang menjadi pusat produksi maupun perdagangan diesel dunia, termasuk Rusia dan kawasan Timur Tengah, serta kebijakan ekspor China dan India.
Tekanan terhadap pasokan diesel global juga diperbesar oleh posisi Amerika Serikat sebagai salah satu pemasok utama ke pasar internasional.
Berdasarkan data yang dikutip Reuters, ekspor diesel AS mencapai rekor sekitar 1,6 juta barel per hari pada Agustus 2026.
AS Kembali Buka Cadangan Minyak
Tekanan pasokan juga mendorong Amerika Serikat menggunakan cadangan minyak strategisnya. Pemerintah AS pada 29 September mengumumkan penawaran pinjaman hingga 40 juta barel minyak dari Strategic Petroleum Reservekepada perusahaan energi.
Langkah tersebut merupakan bagian terakhir dari kontribusi AS dalam kesepakatan pelepasan cadangan minyak global yang dikoordinasikan International Energy AgencyPada Maret, AS berkomitmen meminjamkan 172 juta barel dari SPR sebagai bagian dari pelepasan cadangan global sekitar 400 juta barel yang melibatkan sekitar 30 negara.
Namun, kapasitas cadangan AS juga tidak lagi berada pada level sebelumnya. SPR kini menyimpan kurang dari 284 juta barel.
Ini merupakan level terendah sejak 1982, setelah serangkaian pelepasan cadangan untuk menghadapi berbagai gangguan energi.
Dengan kondisi tersebut, kebijakan pelepasan cadangan menjadi salah satu instrumen untuk menambah pasokan minyak di pasar. Namun, cadangan strategis bukan pengganti bagi pemulihan produksi dan distribusi minyak secara normal.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.