Pertambangan, logistik, transportasi, perkebunan hingga industri menjadi sejumlah sektor yang berpotensi menghadapi kenaikan biaya operasional apabila harga solar global bertahan tinggi.
Pengamat komoditas Wahyu Laksono mengatakan tekanan pasar diesel global sudah mulai terasa di Indonesia, terutama pada sektor industri. Namun, dampaknya belum sampai menjadi krisis solar yang dirasakan masyarakat secara luas.
Tekanan tersebut muncul ketika pasar diesel global menghadapi gangguan pasokan dari sejumlah kawasan utama.
Gangguan produksi dan distribusi di Timur Tengah dan Rusia, ditambah ketidakpastian ekspor dari negara-negara pemasok, membuat pasar distillate global berada dalam kondisi ketat.
Reuters pada 21 September melaporkan kekurangan diesel global diperkirakan dapat berlanjut hingga 2027. Persediaan diesel Amerika Serikat juga berada pada level terendah untuk September sejak 1982.
Gangguan pasokan dari Timur Tengah dan Rusia menjadi salah satu faktor yang membuat pasar diesel semakin ketat.
Kondisi tersebut semakin kompleks setelah Amerika Serikat mempertimbangkan pembatasan ekspor diesel.
Reuters melaporkan ekspor diesel AS meningkat lebih dari 20 persen dibandingkan 2025 menjadi sekitar 1,3 juta barel per hari ketika produsen AS mengisi kekurangan pasokan dari wilayah lain.
Namun, peningkatan ekspor tersebut ikut membuat persediaan domestik AS menipis.
Pada 29 September, tekanan harga diesel bahkan mendorong sejumlah negara bagian AS mengambil langkah untuk menekan harga bahan bakar. Harga diesel AS sempat mencapai rekor USD6,53 per galon.
Pemerintah AS juga masih mempertimbangkan sejumlah kebijakan untuk menambah pasokan domestik dan menekan harga, termasuk kemungkinan pembatasan ekspor diesel.
Mengapa Harga Solar Global Bisa Menekan Biaya Industri Indonesia?
Bagi Indonesia, kenaikan harga diesel global penting karena harga produk BBM regional ikut menjadi referensi dalam pembentukan harga BBM domestik.
Pemerintah menggunakan Mean of Platts Singaporesebagai salah satu acuan harga BBM, sehingga perubahan harga produk minyak di kawasan dapat memengaruhi biaya pengadaan dan harga BBM, khususnya produk nonsubsidi.
Dampaknya tidak selalu muncul dalam bentuk kenaikan harga BBM di SPBU. Bagi perusahaan, jalur transmisinya dapat lebih dulu terlihat melalui biaya operasional.
Wahyu mengatakan, sektor yang menggunakan diesel dalam jumlah besar menjadi kelompok yang paling cepat merasakan tekanan.
Pertambangan batu bara, nikel dan mineral lainnya, misalnya, membutuhkan solar untuk alat berat, truk pengangkut dan berbagai aktivitas operasional di area tambang.
Jika harga bahan bakar naik sementara harga komoditas yang dijual perusahaan tidak meningkat dalam besaran yang sama, kenaikan biaya bahan bakar dapat mempersempit margin.
Risiko serupa terdapat pada sektor perkebunan. Aktivitas pengangkutan hasil perkebunan, kendaraan operasional dan penggunaan alat berat membuat bahan bakar menjadi salah satu komponen biaya yang perlu diperhatikan.
Namun, besarnya dampak terhadap masing-masing perusahaan tidak akan sama.
Perusahaan yang dapat meneruskan kenaikan biaya kepada pelanggan melalui kontrak atau fuel surcharge memiliki mekanisme berbeda dengan perusahaan yang harus menanggung sendiri kenaikan biaya operasional.
Mengapa Logistik Menjadi Salah Satu Sektor yang Rawan?
Logistik dan transportasi menjadi sektor lain yang memiliki hubungan langsung dengan harga diesel karena bahan bakar merupakan komponen penting dalam operasional truk, kapal dan kendaraan distribusi.
Wahyu menilai sektor logistik dan transportasi dapat merasakan tekanan dalam waktu relatif cepat apabila biaya diesel terus meningkat.
Kenaikan biaya bahan bakar dapat mendorong perusahaan menyesuaikan tarif angkutan atau mengenakan fuel surcharge.
Dampaknya kemudian dapat menjalar ke rantai pasok. Ketika biaya pengiriman meningkat, perusahaan dapat menghadapi kenaikan biaya untuk memindahkan bahan baku maupun produk jadi.
Namun, kenaikan tersebut tidak otomatis seluruhnya diteruskan kepada konsumen. Kemampuan perusahaan melakukan pass-through sangat bergantung pada struktur kontrak, tingkat persaingan, daya tawar perusahaan dan kondisi permintaan.
Karena itu, bagi investor, persoalan utamanya bukan hanya melihat harga solar, tetapi juga melihat seberapa besar konsumsi BBM perusahaan dan seberapa besar kemampuan perusahaan meneruskan kenaikan biaya tersebut.
Apakah B50 Bisa Menahan Tekanan Harga Solar?
Indonesia memiliki salah satu bantalan yang tidak dimiliki banyak negara lain, yakni program biodiesel B50.
Kementerian ESDM menyatakan implementasi B50 telah berjalan sejak 1 Juli 2026. Program tersebut menggunakan campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit dan 50 persen solar.
Pemerintah menyebut kebijakan ini ditujukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor solar.
Kementerian ESDM menyebut konsumsi solar nasional berada di kisaran 38 juta-40 juta kiloliter per tahun. Sebelum B50, Indonesia masih mengimpor sekitar 3 juta-4 juta kiloliter solar per tahun.
Pemerintah menargetkan B50 dapat menghentikan impor produk solar sekaligus menghemat devisa hingga Rp170 triliun.
Hingga September 2026, ESDM menyatakan campuran B50 telah menjangkau 6.050 SPBU di Indonesia. Pemerintah juga masih melakukan pengawalan terhadap spesifikasi bahan bakar dan kesiapan industri otomotif setelah implementasi nasional dimulai.
Kebijakan tersebut dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pasokan diesel impor. Namun, B50 tidak berarti seluruh risiko harga energi global hilang.
Wahyu menilai B50 menjadi salah satu langkah defensif Indonesia menghadapi kondisi pasar diesel global.
Menurut dia, program tersebut membantu Indonesia mengurangi risiko kelangkaan fisik, tetapi kenaikan harga energi tetap dapat memengaruhi biaya produksi dan operasional dunia usaha.
Tekanan tersebut menjadi semakin penting apabila harga diesel global bertahan tinggi dalam waktu panjang.
Reuters melaporkan analis industri memperkirakan kondisi kekurangan diesel global dapat berlanjut hingga 2027, sementara EIA memperkirakan persediaan diesel AS tetap rendah dalam sebagian besar periode tersebut.
Bagi pasar modal, kondisi ini membuat harga diesel menjadi salah satu variabel yang perlu diperhatikan ketika menilai emiten yang memiliki konsumsi bahan bakar tinggi.
Investor tidak cukup hanya melihat apakah harga solar naik atau turun.
Yang lebih menentukan adalah seberapa besar porsi BBM terhadap biaya operasional, apakah perusahaan memiliki kontrak fuel surcharge, seberapa kuat kemampuan meneruskan kenaikan biaya, serta apakah perusahaan memperoleh manfaat atau perlindungan dari penggunaan B50.
Dengan demikian, kenaikan harga diesel global belum berarti seluruh emiten Indonesia akan mengalami tekanan yang sama.
Dampaknya akan sangat bergantung pada struktur biaya dan kemampuan masing-masing perusahaan menghadapi kenaikan biaya energi.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.