IHSG dan Rupiah Kompak Melemah, Bursa Asia Terdongkrak Saham TeknologiKoreksi IHSG Buka Peluang di Saham-saham ini, Berikut Cermatan IPOT
Artinya, ketika Rusal masuk, perusahaan Rusia tersebut tidak datang ke lahan kosong. Di Kalimantan Barat sudah ada pembangunan rantai industri bauksit hingga aluminium yang sedang diperbesar.
Bahkan data industri menunjukkan kapasitas alumina Indonesia terus bertambah. Bisnis Indonesia mengutip data industri yang menyebut kapasitas produksi alumina nasional saat ini sekitar 5,35 juta ton per tahun.
Kapasitas tersebut berasal dari Bintan Aluminium Indonesia sekitar dua juta ton, Well Harvest Winning dua juta ton, Borneo Alumina Indonesia satu juta ton, serta Indonesia Chemical Alumina 300.000 ton per tahun.
Namun, angka kapasitas tersebut belum berarti Indonesia sudah bebas dari impor alumina. Data yang dikutip Bisnis Indonesia menunjukkan Indonesia masih mengimpor sekitar 1,45 juta ton alumina.
Di sisi lain, kebutuhan industri aluminium domestik juga terus berkembang.
Kondisi tersebut menunjukkan ada ruang bagi tambahan investasi. Hanya saja, persoalannya bukan semata-mata menambah kapasitas refinery sebanyak-banyaknya.
Indonesia juga perlu memastikan alumina yang dihasilkan terserap oleh industri aluminium domestik sehingga rantai nilai yang dibangun tidak berhenti pada produk antara.
Kebutuhan tersebut semakin relevan karena kapasitas aluminium ingot nasional juga sedang berkembang.
Bisnis Indonesia mencatat kapasitas produksi aluminium ingot nasional sekitar 1,54 juta ton per tahun, yang berasal dari sejumlah produsen di dalam negeri. Kapasitas itu masih akan bertambah seiring pembangunan fasilitas baru.
Di tengah ekspansi tersebut, Rusal memiliki satu sejarah yang cukup panjang dengan bauksit Indonesia. Perusahaan asal Rusia itu sebenarnya sudah pernah membicarakan proyek pengolahan bauksit di Indonesia hampir dua dekade lalu.
Pada September 2007, Rusal dan PT Aneka Tambang Tbk menandatangani nota kerja sama untuk mengembangkan kompleks bauksit dan alumina di Kalimantan Barat.
Dalam rencana awal tersebut, kapasitas pengolahan diproyeksikan mencapai 3,6 juta ton bauksit tercuci per tahun menjadi 1,2 juta ton alumina per tahun.
Antam dan Rusal ketika itu memperkirakan kebutuhan investasi proyek sekitar USD1,2 miliar hingga USD1,5 miliar (Rp21,48 triliun hingga Rp26,85 triliun).
Dalam skema yang dirancang saat itu, Antam diproyeksikan memiliki 49 persen dan Rusal 51 persen.
Namun, rencana tersebut merupakan proyek lama. Angka investasi dan kapasitas tersebut tidak bisa begitu saja ditempelkan pada proyek Rusal yang kembali dibicarakan pemerintah pada 2026.
Perbedaan tersebut penting karena pemerintah saat ini belum membuka angka resmi proyek baru Rusal. Bahlil mengatakan studi kelayakan masih harus diselesaikan sebelum nilai investasi diumumkan.
Mitra domestiknya pun belum disebutkan. Jadi untuk sementara, yang bisa dihitung baru skala industrinya, bukan ukuran proyek Rusal.
Indonesia memiliki cadangan bauksit sekitar 2,86 miliar ton. Di saat yang sama, pemerintah sedang membangun kapasitas alumina hingga dua juta ton per tahun di Mempawah dan memperbesar kapasitas aluminium hingga ratusan ribu ton per tahun.
Sementara itu, industri nasional masih mengimpor alumina dalam jumlah besar.
Di tengah angka-angka tersebut, pertanyaan berikutnya adalah seberapa besar kapasitas yang akan dibawa Rusal, berapa duit yang benar-benar akan ditanamkan, siapa mitra lokalnya, dan apakah proyek kali ini benar-benar akan menjadi babak baru setelah rencana kerja sama yang sudah muncul sejak 2007?
Sebab, Rusal bukan pemain baru yang baru menemukan bauksit Indonesia kemarin sore. Perusahaan itu sudah pernah mengetuk pintu industri bauksit Indonesia hampir 20 tahun lalu.
Kini pintu tersebut kembali dibuka, tetapi ukuran koper investasinya masih belum kelihatan.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.