Saham SEMA Bidik Penjualan Rp2 Triliun, Laba 2027 Diproyeksi Rp200 Miliar

Proyeksi tersebut disampaikan oleh analis MNC Sekuritas, Christian, setelah mencermati keterbukaan informasi perseroan kepada Bursa Efek Indonesiamelalui surat Nomor SI-344/KI-Corsec/09/2026 tertanggal 30 September 2026 perihal Tanggapan Perseroan atas Permintaan Penjelasan Bursa.

“Dengan mempertimbangkan skala proyek data center CGK5 dan CGK7 serta posisi SEMA sebagai pemasok PTU dan SKID, kami melihat kontrak tersebut berpotensi memberikan kontribusi signifikan terhadap kinerja perseroan,” ujar Christian dalam risetnya, pada Kamis, 1 Oktober 2026.

Menurut Christian, berdasarkan kalkulasi pembanding industri data center serta ruang lingkup pekerjaan SEMA, potensi penjualan yang dapat diperoleh perseroan dari proyek tersebut diperkirakan mencapai Rp2 triliun.

“Jika realisasi kontrak berjalan sesuai dengan ekspektasi dan perseroan mampu mempertahankan tingkat margin yang memadai, laba bersih SEMA berpotensi meningkat signifikan hingga mencapai sekitar Rp200 miliar pada 2027,” tuturnya.

Berdasarkan data perdagangan pasar modal, saham SEMA parkir di level Rp422 per saham pada penutupan Kamis, 1 Oktober 2026.

Dalam rentang tiga bulan terakhir, harga saham SEMA mencatatkan lonjakan tajam sebesar 328 poin atau melesat 348,94 persen dari level terendahnya di Rp88 hingga sempat menyentuh level tertinggi di Rp515 per saham.

Valuasi SEMA Jadi Perhatian

Di tengah ekspektasi pertumbuhan kinerja, valuasi saham SEMA juga menjadi perhatian setelah kenaikan harga yang signifikan. Berdasarkan data pasar, rasio price to earningsSEMA secara trailing twelve monthsberada di level 66,03 kali.

Kapitalisasi pasar perseroan tercatat sekitar Rp569 miliar dengan jumlah saham beredar sekitar 1,35 miliar saham.

Dari sisi kinerja keuangan, pendapatan SEMA dalam basis TTM tercatat Rp189 miliar, sedangkan laba bersih mencapai Rp9 miliar. Perseroan memiliki total aset Rp260 miliar dan total liabilitas Rp85 miliar.

Total utang tercatat Rp38 miliar, sementara kas perseroan sekitar Rp5 miliar.

Pada perdagangan 1 Oktober 2026, transaksi saham SEMA tercatat sebanyak 588,88 ribu lot dengan nilai transaksi Rp25,54 miliar.

Data perdagangan juga menunjukkan transaksi beli asing sekitar Rp2,9 miliar, lebih tinggi dibandingkan transaksi jual asing sekitar Rp2,4 miliar.

Dalam surat resminya ke bursa, manajemen SEMA menjelaskan bahwa perseroan telah memperoleh kontrak proyek data center CGK5 dan CGK7 sebagai pemasok Power Train Unitdan SKID.

Pekerjaan tersebut dikategorikan sebagai proyek berskala sangat besar dan bernilai material bagi pengembangan usaha perseroan.

Meski demikian, rincian nilai kontrak belum diungkapkan kepada publik.

SEMA menyatakan bahwa identitas pemberi kerja, nilai kontrak, skema pembayaran, struktur biaya, proyeksi internal, hingga jadwal teknis bersifat rahasia sesuai dengan kesepakatan kerahasiaan atau non-disclosure agreementdan ketentuan kontraktual.

SEMA juga menegaskan bukan sebagai penyedia seluruh sistem kelistrikan proyek CGK5 dan CGK7. Ruang lingkup pekerjaan terbatas pada panel listrik berupa PTU dan SKID serta kewajiban khusus lain yang disepakati.

Oleh karena itu, Christian menambahkan bahwa besarnya potensi penjualan tidak hanya dilihat dari total nilai pembangunan data center, melainkan dari porsi rantai pengadaan infrastruktur kelistrikan yang ditangani perseroan.

Sebagai gambaran industri, SEMA melampirkan beberapa data kapasitas daya TI fasilitas data center, antara lain DCI E2 Surabaya sebesar 9 megawatt, STT Jakarta 1 sebesar 18 MW, DCI JK6 Cibitung sebesar 36 MW, dan NTT Jakarta 3 sebesar 45,6 MW.

Biaya konstruksi pembanding berada pada kisaran USD6,6 juta hingga USD11,2 juta per MW untuk kategori low, mid, hingga high.

Berdasarkan benchmark tersebut, fasilitas hipotetis berkapasitas 50 MW diperkirakan menelan biaya konstruksi Rp5,90 triliun hingga Rp10,01 triliun, dengan nilai tengah Rp7,42 triliun (menggunakan asumsi kurs JISDOR Rp17.877 per dolar AS per 30 September 2026).

Namun, SEMA menegaskan angka tersebut merupakan ilustrasi industri dan bukan nilai investasi maupun nilai kontrak perseroan.

Dengan potensi pendapatan baru tersebut, fokus investor selanjutnya tertuju pada efisiensi konversi pendapatan menjadi laba.

Christian menekankan bahwa pencapaian target laba bersih Rp200 miliar pada 2027 sangat bergantung pada disiplin eksekusi operasional perseroan.

“Kuncinya bukan hanya besarnya penjualan, melainkan penjagaan margin kontrak dan pengendalian biaya.

Selain itu, timing pengakuan pendapatan serta pengelolaan modal kerja akan menjadi penentu utama seberapa besar dampaknya terhadap laba bersih SEMA,” katanya.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.