Setelah Indonesia, Harga BBM Shell di Singapura Ikut Naik

Di Singapura, seluruh perusahaan BBM utama telah melakukan penyesuaian harga sepanjang pekan lalu.

Sementara di Indonesia, sejumlah operator SPBU swasta dan Pertamina juga menaikkan harga beberapa produk BBM nonsubsidi sejak awal September 2026.

Di Singapura, perusahaan milik negara China, SPC, menjadi salah satu operator terakhir yang melakukan penyesuaian.

Pada Sabtu, 19 September 2026, SPC menaikkan harga seluruh jenis bensin sebesar 12 sen Singapura per liter dan diesel sebesar 8 sen.

Kenaikan tersebut mengikuti penyesuaian yang sebelumnya dilakukan Caltex, Esso, Shell, dan Sinopec.

Setelah penyesuaian itu, harga bensin RON 95 di Singapura berada di kisaran SGD3,45 hingga SGD3,49 per liter. Harga terendah tercatat di Sinopec, sedangkan Caltex, Esso, dan Shell berada di sekitar SGD3,49 per liter.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga telah berlangsung hampir serentak di antara operator utama di pasar Singapura.

Harga Minyak Tembus USD100

Pergerakan harga BBM tersebut tidak terlepas dari lonjakan harga minyak mentah dunia.

Pada pekan lalu, harga minyak sempat menembus lebih dari USD100 per barel setelah gangguan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi meningkatkan kekhawatiran mengenai pasokan global.

Salah satu titik perhatian pasar adalah East-West Pipeline yang menghubungkan wilayah produksi minyak Arab Saudi dengan terminal ekspor Yanbu di Laut Merah.

Kerusakan akibat serangan membuat sebagian aliran minyak melalui jalur tersebut terganggu.

Associated Press melaporkan pipa tersebut diperkirakan membutuhkan waktu beberapa pekan untuk kembali beroperasi secara normal.

Gangguan tersebut menjadi penting karena East-West Pipeline merupakan salah satu jalur strategis untuk mengalirkan minyak Arab Saudi ke Yanbu.

Gangguan pada jalur tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kemampuan negara produsen utama menjaga kelancaran distribusi ketika jalur pelayaran di kawasan Timur Tengah juga menghadapi risiko geopolitik.

Namun, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa dampak terhadap pasokan global belum sepenuhnya berkembang menjadi gangguan permanen.

Reuters melaporkan ekspor minyak Arab Saudi melalui Selat Hormuz telah meningkat menjadi lebih dari 4 juta barel per hari pada September, setelah sebelumnya berada di sekitar 2,4 juta barel per hari pada Agustus.

Aliran minyak Timur Tengah dalam 10 hari terakhir juga masih berada pada rata-rata 17,1 juta barel per hari.

Situasi tersebut membuat pasar minyak bergerak sangat volatil.

Pada Senin, 21 September 2026, Brent turun sekitar 2 persen ke USD101,71 per barel, sementara WTI turun 2,14 persen menjadi USD98,15 per barel setelah muncul kembali harapan terhadap jalur diplomasi Amerika Serikat dan Iran.

Ketidakpastian tersebut juga tercermin dalam pandangan JPMorgan. Bank tersebut menyatakan belum memiliki skenario dasar yang jelas untuk pasar minyak untuk pertama kalinya sejak konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran berlangsung.

JPMorgan mencatat harga minyak telah menembus USD100 per barel dan melihat ketidakpastian pasokan sebagai salah satu faktor utama yang menyulitkan proyeksi pasar.

Harga Shell di SPBU Indonesia, Naik Berapa Rupiah?

Dampaknya mulai terlihat di Indonesia. Shell Indonesia melakukan penyesuaian harga pada 1 September 2026.

Harga Shell V-Power Diesel meningkat menjadi Rp25.420 per liter dari sebelumnya Rp21.910 per liter.

Artinya, terdapat kenaikan Rp3.510 per liter atau sekitar 16 persen.

Berdasarkan informasi resmi Shell, pada periode tersebut V-Power Diesel menjadi produk yang tersedia, sementara Shell Super, Shell V-Power, dan Shell V-Power Nitro+ belum tersedia di SPBU.

Penyesuaian harga juga terjadi pada operator lain. Data harga per 20 September 2026 menunjukkan Pertamina mematok Pertamax Turbo Rp19.600 per liter, Pertamax Green 95 Rp19.150, Dexlite Rp23.700, dan Pertamina Dex Rp25.200 per liter.

Sementara Pertamax tetap Rp15.950 dan Pertalite Rp10.000 per liter.

Pada BP-AKR, BP Ultimate tercatat Rp19.330 per liter dan BP Ultimate Diesel Rp25.420 per liter.

Di Vivo, Revvo 92 berada di Rp16.130 per liter, sementara sejumlah produk seperti Revvo 95 dan Diesel Primus belum tercantum pada papan harga karena ketersediaan stok.

Perbedaan respons antara BBM nonsubsidi dan subsidi menjadi bagian penting dalam membaca kondisi pasar Indonesia.

Harga Pertalite dan Biosolar tetap berada pada Rp10.000 dan Rp6.800 per liter, sedangkan penyesuaian lebih banyak terjadi pada produk nonsubsidi.

Dengan struktur tersebut, perubahan harga minyak mentah dunia tidak langsung diteruskan secara seragam ke seluruh jenis BBM yang dikonsumsi masyarakat.

Kenaikan harga BBM di Singapura dan penyesuaian sejumlah produk di Indonesia pada akhirnya memperlihatkan bagaimana gangguan pasokan minyak global dapat diteruskan ke pasar energi regional.

Besarnya dampak berikutnya akan sangat bergantung pada durasi gangguan infrastruktur Saudi, perkembangan konflik di Timur Tengah, kelancaran distribusi melalui Selat Hormuz, serta perubahan harga minyak mentah dunia.

Untuk pasar Indonesia, pergerakan harga minyak juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi biaya energi, transportasi, inflasi, dan margin perusahaan pengguna BBM dalam jumlah besar.

Pada saat yang sama, harga minyak di atas USD100 per barel membuat sensitivitas pasar terhadap perkembangan geopolitik menjadi semakin tinggi.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.