Ekonom Optimistis Ekonomi RI, tapi Kepastian Hukum Jadi Risiko InvestorHarga Rumah Mulai Rp120 Juta, Danantara Tawarkan KPR Ringan
Besarnya kapasitas tersebut terutama menghasilkan produk antara seperti feronikel, nickel pig iron, nickel matte, dan mixed hydroxide precipitateProduk-produk tersebut belum seluruhnya merupakan material yang dapat langsung digunakan konsumen, melainkan menjadi bahan baku untuk tahapan industri berikutnya.
Di sisi lain, rantai pengolahan menuju baterai sudah mulai terbentuk. Fasilitas HPAL, misalnya, memungkinkan MHP diproses lebih lanjut menjadi nikel sulfat dan kobalt sulfat yang digunakan dalam rantai produksi material baterai.
Perkembangan tersebut kemudian berlanjut ke produksi sel baterai. Pemerintah mencatat fasilitas HLI Green Power di Karawang memiliki kapasitas produksi tahap pertama sebesar 10 GWh per tahun, atau sekitar 32,6 juta sel baterai.
Fasilitas tersebut menjadi salah satu bukti bahwa industri hilir nikel Indonesia sudah mulai memasuki manufaktur baterai, bukan hanya berhenti di smelter.
Namun, rantai tersebut belum sepenuhnya tersambung. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM pada Juni 2026 menyebut pCAM dan katoda sebagai mata rantai yang masih perlu dikembangkan untuk melengkapi ekosistem baterai nasional.
Pemerintah bahkan tengah menjajaki investasi Pure Battery Technologies senilai sekitar USD350 juta untuk membangun fasilitas precursor cathode active material atau pCAM berbasis MHP di Indonesia.
Kondisi itu menunjukkan persoalan hilirisasi Indonesia bukan lagi semata-mata soal kemampuan mengolah bijih menjadi produk bernilai tambah.
Tantangan berikutnya adalah memastikan produk dari smelter dapat terus bergerak ke industri material baterai, kemudian menjadi sel, baterai, hingga kendaraan listrik secara terintegrasi.
Gambaran tersebut juga terlihat dari struktur perdagangan luar negeri.
Data Kementerian Perdagangan yang bersumber dari BPS menunjukkan ekspor feronikel pada 2025 mencapai sekitar USD16,39 miliar, sementara ekspor produk intermediate nikel berada di kisaran USD5,41 miliar dan nickel matte sekitar USD2,95 miliar.
Pada saat yang sama, ekspor baterai lithium-ion dalam HS 850760 telah mencapai sekitar USD1,00 miliar pada 2025, naik dari sekitar USD596,5 juta pada 2024 dan hanya USD9,5 juta pada 2021.
Angka tersebut memperlihatkan dua perkembangan yang berjalan bersamaan.
Indonesia memang masih sangat besar dalam ekspor produk olahan dan intermediate berbasis nikel, tetapi pada saat yang sama mulai muncul ekspor produk yang berada jauh lebih dekat dengan konsumen akhir seperti baterai.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan hilirisasi tidak cukup hanya dilihat dari bertambahnya jumlah smelter.
Persoalan berikutnya adalah seberapa banyak produk smelter yang dapat diserap industri lanjutan di dalam negeri dan seberapa panjang rantai nilai yang berhasil dibangun sebelum produk tersebut keluar dari Indonesia.
Pemerintah sendiri telah menyiapkan proyek ekosistem baterai terintegrasi yang mencakup penambangan, RKEF, HPAL, produksi nikel sulfat, precursor, material aktif katoda, hingga daur ulang baterai.
Proyek tersebut menunjukkan arah kebijakan pemerintah mulai bergeser dari pembangunan kapasitas pengolahan menuju pembangunan rantai nilai yang lebih lengkap.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.