Telkom Cetak Laba Rp10,4 Triliun, Arus Kas Operasional Naik 7 Persen

Telkomsel Nyangkut di GOTO, Perseroan Sebut Masih EvaluasiDividen Telkom 2026 Diproyeksi 60-90 Persen, ini Pertimbangannya

“Perubahan ini bukan sekadar perubahan dalam pelaporan keuangan, tetapi merupakan bagian dari transformasi menuju model HoldCo-OpCo yang lebih terintegrasi, transparan, dan berorientasi pada fokusnya,” kata Limiaty.

Telkom juga memisahkan aset serat optik ke entitas penyedia infrastrukturbernama InfraNexia.

Direktur Wholesale dan International Services Telkom, Budi Satria Dharma Purba, mengatakan pengalihan aset serat optik tahap pertama selesai pada Desember 2025 dengan nilai transaksi Rp35,8 triliun.

Tahap kedua, yang mencakup pemindahan sisa aset dan kontrak, ditargetkan selesai pada semester II-2026.

“Infranexia memiliki dua peran utama. Pertama, sebagai penyedia fiber wholesale yang carrier-neutral bagi operator, ISP, data center, dan pelaku industri lainnya,” tutur Budi.

“Kami menargetkan kontribusi pendapatan eksternal secara bertahap mencapai sekitar 25-30 persen. Kedua, sebagai penyedia konektivitas bagi Telkom Group,” lanjutnya.

Hingga semester I-2026, jaringan fiber backbone Telkom mencapai 211.000 kilometer, terdiri dari 115.921 kilometer jaringan domestik dan 95.200 kilometer jaringan internasional.

Infrastruktur tersebut mencakup koneksi ke 501 kota, 27 sistem kabel laut internasional, 122 Point of Presence, 301.000 BTS, lebih dari 45.000 menara, 35 data center, serta tiga satelit dengan kapasitas 42,2 Gbps.

Telkomsel Tambah Spektrum

Telkomsel menambah portofolio frekuensi sebesar 100 MHz dari lelang spektrum terbaru. Tambahan tersebut terdiri dari pita 700 MHz sebesar 20 MHz dan pita 2.600 MHz sebesar 80 MHz.

Dengan tambahan itu, total spektrum Telkomsel menjadi 265 MHz dari sebelumnya 165 MHz. Beban biaya tahunan atas tambahan spektrum tersebut diperkirakan sekitar Rp1 triliun.

Pada semester I-2026, rasio belanja modal terhadap pendapatan atau Capex-to-Revenuekonsolidasi Telkom berada di level 14,2 persen.

Lebih dari 94 persen belanja modal dialokasikan untuk bisnis B2C dan infrastruktur B2B.

Untuk 2026, Telkom menargetkan pertumbuhan pendapatan yang dinormalisasi sebesar 1 persen hingga 3 persen. Margin EBITDA yang dinormalisasi ditargetkan di atas 50 persen.

Perseroan juga menetapkan target rasio C2R pada kisaran 17 persen hingga 19 persen hingga akhir 2026.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.