Minyak Dunia Jebol USD 100, Perang Iran-AS Bikin Pasokan Timur Tengah Makin Berantakan
Peperangan Mengganggu Arus Minyak
Iran Bombardir Kapal Tanker dan Pangkalan AS saat Harga Minyak Makin Dekat USD100
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat Pertamina mengimpor 135,33 juta barel minyak mentah sepanjang 2025. Dari jumlah tersebut, sekitar 25,36 juta barel atau 19 persen berasal dari Arab Saudi.
Pemerintah juga menyebut sebagian pasokan crude untuk kebutuhan Indonesia yang berasal dari kawasan Timur Tengah melewati Selat Hormuz.
Secara global, skala jalur tersebut jauh lebih besar. ESDM memperkirakan sekitar 20,1 juta barel minyak per hari atau sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz.
Karena itu, gangguan berkepanjangan di jalur tersebut berpotensi memengaruhi harga minyak dan biaya pengadaan energi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Pemerintah sendiri telah menyiapkan diversifikasi sumber pasokan. ESDM menyebut impor minyak mentah dapat dialihkan sebagian dari negara-negara Timur Tengah ke sumber lain, misalnya dari Amerika Serikat yang sudah disepakati tahun ini.
Langkah tersebut ditempuh untuk mengurangi risiko terhadap kesinambungan pasokan domestik ketika lalu lintas di kawasan Teluk Persia terganggu.
Dampaknya mulai terlihat dalam pergerakan harga minyak domestik. Ditjen Migas ESDM mencatat rata-rata Indonesian Crude Price atau ICP Agustus 2026 mencapai USD89,43 per barel, naik USD7,75 dari USD81,68 per barel pada Juli.
Pemerintah mengaitkan kenaikan tersebut antara lain dengan meningkatnya risiko geopolitik dan potensi gangguan pasokan di jalur strategis seperti Hormuz dan Laut Merah.
Tekanan harga minyak kemudian bertemu dengan persoalan nilai tukar. Bank Indonesia dalam RDG 22–23 September 2026 mencatat harga minyak dunia sempat menyentuh USD132 per barel sebelum kembali turun ke bawah USD100 pada 22 September.
Pada tanggal yang sama, Rupiah berada di Rp17.855 per USD, melemah 0,78 persen dibandingkan posisi akhir Agustus. BI menyebut meningkatnya ketidakpastian global menjadi salah satu sumber tekanan terhadap nilai tukar.
Perkembangan tersebut juga berkaitan dengan tekanan biaya energi di dalam negeri.
Dalam laporan kebijakan moneternya, BI mencatat gangguan lalu lintas di Selat Hormuz kembali mengganggu rantai pasok perdagangan dan mendorong kenaikan harga minyak serta berbagai komoditas dunia.
Pada Agustus 2026, inflasi Indonesia tercatat 3,19 persen secara tahunan, sementara inflasi kelompok administered prices berada di 3,32 persen.
BI menyebut penyesuaian harga avtur dan BBM nonsubsidi turut menjadi bagian dari perkembangan kelompok tersebut.
Bagi investor domestik, tekanan geopolitik itu berlangsung bersamaan dengan pergerakan pasar keuangan yang cukup bergejolak. Pada perdagangan Jumat, 25 September 2026, IHSG turun 0,90 persen ke level 6.241,89.
Pada hari yang sama, investor asing mencatat net sell sebesar Rp559,07 miliar di seluruh pasar.
Tekanan tersebut tidak hanya muncul dalam satu hari. IHSG telah melemah 3,09 persen sepanjang pekan hingga 25 September 2026.
Seluruh indeks sektoral tercatat turun, dengan sektor industri melemah 2,52 persen, infrastruktur 2,22 persen, transportasi dan logistik 1,84 persen, serta sektor energi 1,18 persen.
Namun, pergerakan pasar tersebut tidak bisa secara otomatis dikaitkan hanya dengan penolakan Trump terhadap proposal Iran.
Data pasar menunjukkan tekanan datang bersamaan dengan sejumlah faktor global lain, seperti pergerakan harga minyak, Rupiah, dan kondisi pasar keuangan internasional.
Dengan begitu, perkembangan di Hormuz menjadi salah satu variabel yang perlu diperhatikan investor Indonesia.
Jika gangguan jalur energi berlanjut, perhatian pasar tidak hanya tertuju pada harga minyak, tetapi juga pada biaya impor energi, nilai tukar Rupiah, inflasi dan arus modal di pasar domestik.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.