Mengutip Reuters, S&P 500 dan Nasdaq terkoreksi masing-masing sebesar 0,28 persen dan 0,76 persen. Sementara Dow Jones menguat 0,26 persen.
Reuters mencatat, melemahnya S&P 500 dan Nasdaq disebabkan oleh aksi investor yang mempertimbangkan tekanan ekonomi AS yang baru terhadap Iran.
Selain itu, pasar juga sedang bersiap menghadapi pekan yang mencakup laporan pendapatan Nvidia serta laporan inflasi.
Diketahui, pemerintahan Presiden AS, Donald Trump pada Senin, mengumumkan potensi perluasan sanksi terhadap negara-negara yang berbisnis dengan Iran.
Di sisi lain, sentimen juga datang dari saham-saham perusahaan chip yang mengalami penurunan tajam. Nvidiaturun 2,9 persen, Micron Technologymenyusut 5,8 persen dan Broadcomtertekan 2,6 persen.
Kondisi inilah yang menyebabkan indeks S&P 500 terkoneksi.
Katalia terhadap perusahaan teknologi juga terpukul oleh meningkatnya penentangan politik terhadap pusat data AI.
Gubernur Texas Greg Abbott menyampaikan salah satu peringatan paling keras dari seorang Republikan kepada industri AI, dengan mengatakan bahwa perusahaan pusat data “menggali kuburan mereka sendiri” dan pantas menerima kecaman yang mereka hadapi setelah gagal memenangkan dukungan masyarakat, seperti yang dilaporkan Axios pada hari Minggu.
Bulan ini, Abbott memerintahkan penghentian sementara persetujuan proyek pusat data baru melalui proses interkoneksi jaringan listrik negara bagian, dengan alasan kekhawatiran bahwa lonjakan permintaan listrik dapat mengancam keandalan pada saat penentangan terhadap proyek-proyek tersebut semakin meningkat.
“Kekhawatiran terbesar kami adalah retorika agresif yang mulai kami dengar dari para politisi tentang AI dan pusat data,” kata Ohsung Kwon, kepala strategi ekuitas di Wells Fargo.
“Kami telah menyoroti hal itu sebagai risiko besar menjelang pemilihan paruh waktu.” tambah dia.
Hasil kuartalan dari raksasa AI Nvidia diperkirakan akan menjadi katalis kunci lain bagi pasar. Tanda-tanda perlambatan pertumbuhan dapat kembali memicu kekhawatiran atas valuasi yang terlalu tinggi.
“Nvidia perlu memberikan kesan yang baik agar salah satu pilar pasar saham tetap stabil, dan Warsh perlu memberikan kejelasan tentang suku bunga agar pilar lainnya tetap stabil,” kata Richard Reyle, kepala investasi di Questar Capital Partners.
Pasar juga akan memantau laporan Pengeluaran Konsumsi Pribadi, indikator inflasi pilihan The Fed, yang akan dirilis pada hari Rabu.
Laporan ini akan menyusul laporan inflasi konsumen yang moderat awal bulan ini yang mengurangi kemungkinan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
Menurut data LSEG, para pedagang memperkirakan satu kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada akhir tahun 2026.
Perhatian Tertuju Pada Pidato Warsh di Jackson Hole
Kekhawatiran atas membengkaknya utang pemerintah telah mendorong imbal hasil obligasi 30 tahun ke level tertinggi dalam 19 tahun sebelum Kementerian Keuangan mengumumkan langkah-langkah dukungan pekan lalu.
Dikutip dari Reuters, CNBC melaporkan pada hari Senin bahwa Menteri Keuangan Scott Bessent dapat menggunakan dana General Account departemen yang hampir mencapai USD1 triliun untuk membantu mendanai pembelian kembali obligasi.
Namun, imbal hasil obligasi Treasury AS 30 tahun tetap berada di atas ambang batas lima persen.
Gejolak ini telah mempertajam fokus pada pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di simposium Jackson Hole pada hari Jumat, di mana para investor akan mencari petunjuk tentang interpretasi para pembuat kebijakan terhadap upaya penyelamatan Departemen Keuangan.
Pasar Abaikan Sanksi Baru AS ke Iran, Harga Minyak Anjlok Lebih dari Dua Persen
Di sisi lain, harga minyak mengalami penurunan lebih dari dua persen pada perdagangan Senin, 24 Agustus 2026 karena pasar mengabaikan sanksi baru Amerika Serikatterhadap Iran .
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka turun 2,35 persen menjadi USD92,17. Sementara minyak mentah West Texas IntermediateAS ditutup di level USD85,01 atau menyusut 2,35 persen.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent pada hari Senin mengumumkan perluasan sanksi yang dapat dikenakan pada entitas dan negara yang memiliki hubungan bisnis dengan Iran di seluruh dunia, seiring Washington meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran menjelang enam bulan perang.
Hal tersebut menyusul ancaman Presiden AS, Donald Trump tentang “perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya” terhadap Teheran pekan lalu.
Analis Strategi Investasi Raymond James, Pavel Molchanov mengatakan tidak banyak hal baru yang muncul dari komentar Bessent, selain apa yang telah diisyaratkan sebelumnya.
Adapun kedua kontrak tersebut yakni Brent dan WTI AS telah mencatatkan kenaikan mingguan kedua berturut-turut pekan lalu, naik lebih dari 5%.
“Pasar minyak yang telah menguat cukup signifikan minggu lalu, mengalami aksi ambil untung hari ini,” kata Molchanov.
“Bisakah Gedung Putih menemukan sesuatu yang belum pernah dicoba sebelumnya dan akan memiliki dampak yang jauh lebih besar pada perekonomian Iran? Kita akan percaya jika kita melihatnya,” lanjut dia.
Sementara itu Jorge Leon, kepala analisis geopolitik di Rystad Energy menyebut saat ini yang perlu dipertanyakan adalah seberapa agresif Washington siap untuk memberlakukan sanksi sekunder terhadap mitra dagang Iran yang tersisa.
“Kecuali jika China secara signifikan mengurangi pembelian lebih lanjut, dampak tambahan pada pendapatan minyak Iran bisa relatif terbatas,” ujarnya.
Iran telah mengecam rencana AS untuk mengumumkan sanksi baru dan Presiden Masoud Pezeshkian telah menyerukan solusi diplomatik .
Kepala Angkatan Darat Pakistan mengunjungi Teheran pada hari Senin untuk pembicaraan mediasi, menjelang pengumuman AS.
Pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, jalur yang dulunya mengangkut seperlima pasokan global, tetap terbatas.
Data perkapalan yang dirilis pada hari Senin menunjukkan bahwa kurang dari 20 kapal komoditas melintasi Selat Hormuz pada akhir pekan, karena blokade Iran dan AS membatasi lalu lintas melalui jalur sempit tersebut untuk pengiriman energi.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.