Airlangga Ungkap Penggunaan Maung MV3 Garuda Limousine untuk Menteri, Intip SpeknyaEkonom Didik Rachbini Sebut Industri Jadi PR Darurat Menperin Baru
Kekhawatiran lain datang dari fiskal pemerintah Amerika Serikat. IMF memperkirakan utang bruto pemerintah AS mencapai 125,8 persen dari PDB pada 2026.
Rasio tersebut diproyeksikan terus meningkat hingga 141,5 persen pada 2031.
Kalau angka utang membuat mata masih bisa berkedip santai, biaya untuk membayar utang tersebut mungkin membuat alis mulai terangkat.
Congressional Budget Office atau CBO memperkirakan pengeluaran bersih pemerintah AS untuk pembayaran bunga mencapai lebih dari USD1 triliun atau sekitar Rp17.900 triliun pada 2026.
Nilai tersebut naik sekitar 7 persen dari USD970 miliar pada 2025.
Masalahnya, tagihan tersebut belum menunjukkan tanda mau mengecil. CBO memproyeksikan pembayaran bunga bersih meningkat menjadi sekitar USD2,1 triliun atau Rp37.590 triliun pada 2036.
Dalam proyeksi CBO, biaya bunga bersih yang pada 2026 setara sekitar 3,3 persen PDB akan meningkat menjadi 4,6 persen PDB pada 2036.
Bahkan, sekitar separuh kenaikan biaya bunga dalam periode tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya rata-rata tingkat bunga atas utang pemerintah.
Artinya, ketika yield Treasury naik, persoalannya bukan cuma investor saham yang mulai resah. Pemerintah AS sendiri ikut menghadapi ongkos pembiayaan yang semakin mahal.
Kemudian datang minyak. Harga Brent sempat menembus USD102 atau sekitar Rp1,83 juta per barel sebelum kembali turun ke sekitar USD99,86 atau Rp1,79 juta per barel dalam perdagangan Rabu.
Kenaikan harga minyak menjadi persoalan karena energi mahal bisa kembali menekan inflasi. Kalau inflasi bertahan tinggi, ruang bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter menjadi semakin sempit.
Karena itulah International Energy Agency atau IEA kembali turun tangan..Dalam pernyataannya pada 7 Oktober, IEA menyebut negara-negara anggotanya mendukung percepatan pelepasan cadangan minyak yang telah disepakati sejak Maret 2026.
Sampai saat ini sekitar 325 juta barel minyak telah dilepas melalui aksi kolektif tersebut. Masih ada sekitar 100 juta barel dari komitmen sebelumnya yang belum dilepas dan berpotensi masuk ke pasar.
Yang menarik, IEA secara khusus meminta pelepasan stok diesel diprioritaskan karena pasar diesel sedang ketat.
Negara-negara anggota IEA masih memiliki sekitar 1,1 miliar barel cadangan minyak darurat publik, termasuk lebih dari 200 juta barel diesel. IEA mengatakan cadangan tambahan tersebut masih dapat dilepas jika kondisi pasar membutuhkan.
Jadi pasar sekarang menghadapi kombinasi yang agak kurang menyenangkan. Yield tinggi membuat biaya uang mahal.
Utang pemerintah AS membuat pasar mempertanyakan daya tahan fiskal Washington. Sementara minyak yang masih mahal membuat bayang-bayang inflasi belum benar-benar pergi.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.